Sebelas Patriot
Andrea HirataSemua hal yang pernah kuingat tentang Ayahku adalah biasa saja. Sangat biasa. Ingatan pertama tentang Ayah tampak seperti gambar yang samar, yaitu pada suatu malam aku duduk di tengah sebuah ruangan dengan dua anak lain, yang belakang hari nanti mereka adalah Trapani si pemalu dan Mahar si bergajul, dan kami menggoda seekor luak yang baru ditangkap sang tuan rumah, seorang pemburu tua. Belasan lelaki duduk bersila di atas tikar lais. Meski samar, hal ini kuingat, yaitu lampu badai direndahkan ke kandang yang dibuat dari jalinan akar banar di mana luak itu kekenyangan, termenung, dan tak peduli. Kuingat, suara entok bertengkar di bawah lantai papan, dan kuingat lelaki-lelaki yang duduk melingkar itu bersenda gurau tentang kami.
Tiba-tiba Mahar, dengan jarinya, menyentuh hidung luak. Binatang malam itu tersentak lalu mencangar garang. Macam kucing tandang, ia mendesis-desis. Kami terperanjat, terjajar mundur, lalu merangkak terbirit- birit menuju lingkaran lelaki tadi, masing-masing menuju lelaki tertentu, ayah-ayah kami. Lelaki yang kutuju serta-merta bangkit dan terseok-seok menyongsongku. Aku pucat dan gemetar. Didekapnya aku dan sambil tersenyum diletakkannya tangannya di dadaku untuk meredakan gemuruh di situ, kuingat sekali, bahkan hingga dewasa sekarang takkan pernah kulupa kata-katanya waktu itu:
"Aih, tak apa-apa... tak apa-apa, Bujang, hanyalah Luak, janganlah takut, Ayah di sini..."
