Di dalam ilmu matematika, benda yang diputar 180° akan berada pada posisi yangberlawanan: kanan jadi kiri, atas jadi bawah. lnilah yang menginspirasi saya untuk berpikir 180° dalam menjalani hid up, terutama ketika mengalami kejadian buruk yang tidak saya sukai. Melihat dari sudut pandang yang berbeda: menemukan kebaikan dalam keburukan, kekuatan dalam kelemahan, hadiah di dalam masalah, dan berpikir serba mungkin di dalam kemustahilan.
Berpikir 180° bukan dimaksudkan untuk menggantikan cara berpikir normal. Hanya sebagai pelengkap terutama jika kita dihadapkan pada suatu kondisi yang menyakitkan, melemahkan, dan suasana terpuruk lainnya. Dengan berpikir normal, kondisi-kondisi negatif tersebut akan berpotensi menjadikan hidup semakin tertekan, stres, atau putus asa. Sebaliknya dengan berpikir 180°, berbagai masalah, kesulitan, dan kejadian negatif lainnya justru bisa diolah menjadi kekuatan dan kelebihan yang akan membuahkan kondisi yang menguntungkan.
Contohnya, saat Anda mengalami drop out dari kampus, apa yang terpikirkan oleh Anda? Masa depan suram? Susah cari kerja? Tidak ada gadis yang mau Anda nikahi? Ataupun beragam hal negatif lainnya yang pasti sudah Anda pikirkan. Efeknya Anda menjadi stres, tertekan oleh kemalangan hidup, dan putus asa, kan? ltulah pengaruh berpikir normal jika digunakan untuk menghadapi kejadian buruk (negatif).
_4K.png)