Air Mata Para Nabi
Oleh : Lalu Ibrohim
Ketika usia Nabi Zakaria sudah menapak senja, badannya sudah lemah, rambutnya sudah beruban, ia berharap memiliki seorang penerus yang akan melanjutkan perjuangannya. Ketika itu, ia belum mempunyai anak. Ia memohon kepada Allah agar dikaruniai anak yang saleh. Permohonannya terkabul.
Tidak lama sesudah itu, lahirlah puteranya yang diberi nama Yahya. Sejak kecil Nabi Yahya sudah menampakkan tanda-tanda kesalehan. Dalam usia 3 tahun saja, ia sudah menghafal kitab Taurat. Ketika berusia 8 tahun, Nabi Yahya dibuatkan baju bulu oleh ibunya, kemudian ikut beri'tikaf di Masjidil Aqsa bersama abid yang tua- tua. Di masjid itulah ia tinggal selama 7 tahun sambil merindukan pencipta-Nya. Dalam usia 15, ia tidaktahan lagi membendung rasa cintanya kepada Allah. Pergilah ia ke sungai Yordan, bersunyi-sunyi, menangis sambil bertafakkur merenungkan kasih sayang Allah.
Ayah bundanya bingung, mencarinya ke sana ke mari. Akhirnya, Nabi Zakaria menjumpai puteranya sedang menangis di tepi sungai Yordan. Di bawalah Nabi Yahya pulang. Sampai di rumah, ia tetap saja beribadah sambil menangis, air mata- nya mengalir terus sampai pipinya semakin iris. Lama-lama, pipinya berlubang juga, sampai-sampai gigi gerahamnya terlihat dari luar. Ibu Nabi Yahya sangat menyayangi putera semata wayangnya itu. Diambilnya kapas lalu disumbatnya lubang pipi anaknya. Tetapi sia-sia belaka.
Waktu itu Nabi Zakaria bersabda, "Ya, Allah, hamba mohon anak yang saleh, tetapi Engkau berikan anak yang jago menangis." Rupanya, Nabi Zakaria belum tahu bahwa tangis puteranya itu karena cinta kepada Allah. Allah pun menjelaskan bahwa Yahya adalah anak yang sangat saleh. Sejak kecil sudah banyak mencucurkan air mata karena cinta kepada-Nya.
Download : Air Mata Para Nabi
Via : Google Drive
