Belajar Inovasi untuk Menang
Oleh : Ade FebransyahJika ditelaah dari disiplin pengambilan keputusan, Inovasi atau tidak berinovasi adalah pilihan. Artinya, inovasi bukan keharusan. Jika pilihan tidak berinnovasi yang diambil, hampir pasti perusahaan tidak mengalami perubahan, berarti status quo dipertahankan. Jika inovasi jadi pilihan, maka yang dihadapi adalah ketidakpastian: bisa sukses ataupun gagal. Jadi, pelajaran pertama bagi para inovator adalah berani menghadapi kegagalan. Kredo innovate to fail menjadi keseharian di perusahaan inovatif. Inilah yang membedakan segelintir penginovasi dari kerumunan. Berani salah namun tetap berupaya untuk terus memperbaiki diri. Sesuatu yang manusiawi.
Pelajaran kedua adalah learning to see. Inovasi menuntut pelakunya untuk mampu melihat dan memahami, terutama problem yang terjadi di masyarakat, beserta kebutuhan, keinginan, dan hasrat tersembunyi mereka. Problem yang ber- kaitan dengan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, energi, hi- buran sampai interaksi sosial adalah problem abadi yang selalu membuka peluang inovasi. Berkaitan dengan masalah kesehatan, misalnya, perusahaan sepatu New Balance merancang sepatu khusus untuk orang yang kelebihan berat badan dan faktor risiko terhadap penyakit tertentu.
Pelajaran berikutnya adalah learning to conceptualize. Perusahaan farmasi selalu tertantang untuk menghadirkan suplemen atau obat baru untuk menurunkan kolesterol, gula darah, meningkatkan stamina, dan seterusnya. Produsen alat kebugaran terus mencoba mendesain alat-alat fitness yang makin efektif dan efisien bagi para penggunanya. Perusahaan sepatu menyisipkan semacam 'chip' di alas sepatu terbaru mereka untuk mengenali perbedaan berat badan ketika si pengguna melangkah. Mereka juga menanam alat semacam remote control untuk menghitung jumlah langkah beserta kalori yang dikeluarkan.
Download : Belajar Inovasi untuk Menang
Via : Google Drive
