Penghujung abad keenam serta awal abad ketujuh masehi menandai semakin senjanya peradaban dunia. Seluruh sendi peradaban pagan, entah apa label agama yang disandangnya aatupun bangsa yang memikulnyu- Konfusius Cina, Majusi Persia, bahkan Kristen Romawi- sudah sedemikian mundur dan jauh dari nilai-nilai peradaban. Para raja berebut kekuasaan, tak peduli dengan nasib rakyat yang mereka pimpin. Sekte-sekte agama berselisih keras dan saling serang satu sama lain. Darah tertumpah dengan mudah dan nilai-nilai kemanusiaan semakin sirna. Kemakmuran tak lagi memberi kenikmatan, kemiskinan tak jua memicu kesadaran. Nilai-nilai keadilan tereduksi, cita-cita perdamaian terlucuti, visi ketuhanan pun tergerusi. Manusia menjadi korban tingkah polahnya sendiri. Sejarah membutuhkan sesuatu yang baru kini, sesuatu yang mampu menghidupkan kembali tubuhnya yang sekarat dan menyelamatkan jiwanya yang lumpuh agar masa depan peradaban tak terlanjur berkarat dan hancur.
"Adalah layak untuk dihargai," tulis Joseph McCabe dalam bukunya The Splendour of The Moorish Spain, "Bahwa orang-orang Arab [Muslim, pen.] memasuki arena pada periode paling penuh keputusasaan yang pernah dirasakan dunia sejak fajar peradabannya, yaitu pada paruh pertama abad ketujuh. Sekiranya ada seorang pemikir filsafat di mana pun di bumi ini pada awal abad tersebut, ia tentu akan mengumumkan bahwa kisah perjalanan panjang upaya manusia untuk menciptakan peradaban telah berakhir dengan kegagalan."
Peradaban belum kehilangan penyelamat sejatinya. Fajar
Islam merekah di ufuk Hijaz pada permulaan abad ketujuh. Manusia tak segera menyambutnya dengan ramah. Namun akhirnya, keindahan ajaran dan keluhuran pengembannya menaklukkan mereka. Manusia pun berbondong-bondong bersimpuh di haribaan risalah Muhammad Saw. hingga bumipun bergetar, gunung bertasbuih, dan awan memanyungi gemuruh takbir.
Download : Sang Penakluk Andalusia
Via : Google Drive
