Pada Mei 1998, ketika Presiden Soeharto mundur, B.J. Habibie naik dari wakil presiden menjadi presiden. Ia masa yang penuh gejolak di Jakarta maupun berbagai tempat di Indonesia. Serangkaian aksi pro kemerdekaan Papua muncul di Jayapura, Sorong, Wamena, Biak, dan Manokwari antara Juli dan Oktober 1998. Lusinan aktivis ditangkap dan dipenjara.
Di Aceh, Gerakan Acheh Merdeka mengadakan peringatan ulang tahun Acheh Merdeka secara terbuka pada 4 Desember 1998. Mereka juga keluarkan bendera merah bulan sabit. Pada Januari 1999, pada hari Idul Fitri, pecah kekerasan komunal di Ambon –antara Kristen dan Islam—serta di Parit Setia, di daerah Sambas, tiga jam dari Pontianak –antara Madura danMelayu. Lebih dari 20.000 orang mati dibunuh di kepulauan Maluku, dari Ternate sampai Ambon, antara 1999 hingga 2004. Lebih dari 3.000 orang Madura mati dibunuh di Sambas pada 1999 sampai 2000.
Khusus Timor Timur, pada Januari 1999, Presiden B.J. Habibie bilang lebih baik referendum sekarang daripada ditunda 10 tahun lagi. Maka United Nations segera siapkan referendum buat Timor Timur. Sebulan berikutnya, 100 delegasi Papua datang ke Habibie dengan pimpinan Theys Eluay, mereka juga minta diizinkan bikin referendum di Papua.
Habibie menolak dan menjanjikan otonomi khusus kepada Papua. Habibie menolak dialog soal pemerintahan di Papua. Ia tahun-tahun yang kelam di seluruh Indonesia. Filep Karma, sebagai orang kelahiran Biak, merancang aksi damai di Biak pada Juli 1998. Para
Download : Seakan Kitorang Setengah Binatang
Via : Google Drive
