Amiko, Te Amo!
Oleh : Anjar Lembayung
HUJAN DI LUAR masih asyik menyelimuti Kota Jakarta. Namun, cuaca yang kerap membuat orang-orang mengeluh pada jam pulang kerja itu tak membuat seorang wanita dengan bandana warna peach membuang senyum. Ia masih sibuk menata benda persegi berwarna cokelat muda dengan pita berwarna keemasan.
Cantik. Semakin manis ketika Mei melihat deretan dua nama yang akan segera berucap janji suci bulan depan. Ia menahan senyum gembira pada bibir berlipstik pink pastel. Sesekali melirik ke arah lelaki berkemeja putih dengan dasi merah di seberang mejanya.
Namun, saat menyadari lelaki itu hanya diam dan sesekali menyesap espresso di meja membuat Mei merasa aneh.
"Kamu ... enggak suka sama desain undangan ini?" Mei mulai menuduh yang bukan-bukan.
Brian berdeham lalu memperbaiki posisi duduknya. "Bukan begitu, Mei. Aku...."
"Terus? Enggak mau banyak tamu yang diundang? Kalau enggak setuju bilang dari awal, dong. Aku, kan...."
"Mei, dengerin aku ngomong dulu, dong," potong lelaki berambut cepak yang sudah setahun menjalani hubungan bersama Mei.
Setahun bukan waktu yang sebentar. Mei rasa itu cukup untuk penjajakan mengingat mereka berdua sudah sama-sama dewasa. Toh semasa kuliah mereka sudah saling mengenal. Di usianya yang menginjak angka dua puluh lima, Mei tak mau menunda pernikahan lagi meski Brian kerap menolak dengan alasan belum siap.
Wanita bermata lebar itu menghela napas panjang. Sejak lamaran dua bulan lalu, sikap Brian memang aneh. Percekcokan kerap terjadi. Mama bilang itu biasa. Prawedding syndrom, katanya begitu.
Download : Amiko, Te Amo!
Via : Google Drive
