Lemons
Oleh : Alana Akhsaya
"Dari Bu Sobari." Aku menaruh undangan pernikahan berbungkus plastik di atas meja ruang keluarga. Mama dan adikku-Ola-sedang duduk
berdampingan di sofa depan teve.
"Si Eneng nikah, Kak?" Tanya Ola dengan mata membulat sempurna.
"Iye. Masa Bu Sobarinya yang nikah lagi. Dia, kan, baru nikah lagi kemarin." ucapku seraya menjatuhkan tubuh ke sofa. "Ih, ternyata si Bu Sobari kemarin mendadak nikah gitu karena nggak mau dilangkahin anaknya, ya, ma? Kacau banget. Padahal, kan, dia udah pernah. Kok masih tetap nggak mau kalah gitu?"
Mama berdecak seraya memutar kedua bola matanya. "Tertarik kamu, Qi, ngomongin nikahan orang? Kalau mama tanya soal nikahan kamu, langsung pura-pura kejang."
"Kejang beneran itu, ma." Ola belagak berbisik lalu terkikik. "Eneng bukannya baru lulus, kak? Lebih tua aku, kan, daripada dia. Kok udah nikah aja?"
"Yah, begitulah. Anak jaman sekarang, kan, kalau capek hidup maunya nikah aja. Mungkin mereka tahu, kalau nikah itu artinya hidup mereka
langsung kelar."
Ola langsung tergelak geli sedangkan mama langsung melotot. "Hush! Kamu, tuh, ngomong asal bunyi wae! Kamu jangan bikin mama pusing, atuh! Mama khawatir lihat kamu. Boro-boro mau nikah, bawa pacar aja nggak pernah. Si Ola ini udah 25, lho. Bentar lagi minta kawin dia pasti-"
"Emang iya, La?" Aku mengangkat alis dan menatap Ola.
Sebelum Ola menjawab, mama langsung memutar badannya, menatap Ola dengan sorot mata penuh ancaman serta tepukan di paha. "Tong cicing waé, atuh! Bilang sama kakaknya kalo kamu udah ada rencana nikah!"
"Seriusan kamu?" Mataku sontak membeliak.
Raut wajah Ola berubah nggak nyaman. "Aku sama Adit, kan, udah pacaran 5 tahun, kak. Pasti ada rencana nikah, lah. Ya, tapi belum tahu kapan. Mama aja, nih, lebay!"
Download : Lemons
Via : Google Drive
