Untied
Oleh : Alma Aridatha
Gue menarik napas perlahan, mencoba menenangkan diri, sementara perempuan di depan gue sedang melontarkan berbagai kalimat pembelaan. Berusaha memperlembut cara untuk menginjak hati gue, sejak hampir satu jam yang lalu.
Gue paling malas mendengar pembelaan. Gue bukan hakim. Nggak usah banyak basa-basi sama gue. Nggak suka, bilang nggak suka. Nggak perlu pakai alasan, "Lo baik sih... tapi...”
Bullshit!
Sama seperti saat ini. Kalau udah nggak suka sama gue, mau putus ya bilang putus. Nggak perlu banyak ngoceh, "Kamu terlalu baik buat aku... blablabla...." Persetan dengan semua pembelaan.
Selembut apa pun cara lo mutusin orang, di hati tetap terasa nyeri. Sakit, kampret.
"Gi... ngomong dong...." Perempuan itu kembali bersuara.
Gue menarik tangan dari genggamannya. Nggak usah pegang- pegang kalau niat lo masih tetap pergi dari gue! Rasanya gue pengin banget teriak di depan mukanya.
"Aku harus ngomong apa biar kamu nggak pergi?" tanya gue akhimya. Tara-cinta gue selama tiga tahun ini-yang gue pikir bakal jadi perempuan pertama sekaligus terakhir buat gue, menatap gue dengan pandangan... entahlah. Wajahnya sudah dipenuhi air mata. Seharusnya gue yang nangis sekarang, bukan dia. Gue yang jadi korban di sini. Diputusin dengan alasan yang tidak gue pahami.
Katanya, gue nggak bisa diajak komitmen. Terus, tiga tahun ini gue ngapain kalau bukan komitmen? Gue nggak pernah lirik-lirik.
perempuan lain. Rela jadi tukang ojek dia, antar-jemput les, sampai nungguin dia tiap ada kegiatan klub di sekolah.
Download : Untied
Via : Google Drive
