Novel War Storm by Victoria Aveyard

War Storm

Oleh         : Victoria Aveyard

Corvium menganga di sekeliling kami, sarat dengan orang, tetapi terasa kosong. Pecah belah dan kuasai. Implikasinya jelas, garis pembedanya gamblang. Farley dan Davidson sama-sama memandangiku lekat. 

Aku balas menatap mereka. Kurasa Cal tidak tahu, tidak mengira, bahwa Barisan Merah dan Montfort pantang membiarkannya terus menduduki takhta yang dia menangi. Kurasa dia menganggap mahkota lebih penting daripada pendapat orang Merah. Dan, kurasa aku tak sepatutnya lagi memanggil dia Cal.

Tiberias Calore. Raja Tiberias. Tiberias Ketujuh. Itulah nama lahirnya, nama yang dia sandang kali pertama aku berjumpa dengannya. Pencuri, demikianlah dia memanggilku ketika itu. Demikianlah namaku.

Aku berharap bisa melupakan kejadian satu jam terakhir. Mundur barang sedikit. Beringsut-ingsut ke belakang. Andai saja aku bisa menikmati kedamaian nan janggal, ketika yang kurasakan hanyalah nyeri karena otot-otot pegal dan tulang-tulang linu, barang sedetik lagi saja. Kehampaan begitu adrenalin surut selepas pertempuran. Keyakinan akan cinta dan dukungan darinya. Walaupun patah hati, aku ternyata tidak kuasa membenci Cal gara-gara pilihan yang dia buat.

Belakangan, barulah rasa murka muncul. Keprihatinan berkelebat di wajah Farley. Ekspresi itu ganjil untuknya. Aku lebih terbiasa menyaksikan kebulatan tekad nan dingin dan amarah berapi-api pada diri Diana Farley. Mulutnya yang berparut berkedut-kedut begitu dia menangkap tatapanku.

 “Akan kusampaikan keputusan Cal kepada anggota Dewan Panglima yang lain,” kata Farley, memecah keheningan nan tegang.

Kata-katanya pelan dan terukur. “Hanya kepada Dewan Panglima. Ada akan mengantarkan pesan.”

Perdana Menteri Montfort mengangguk setuju. “Bagus. Menurutku Jenderal Drummer dan Swan mungkin sudah memperkirakan perkembangan terbaru ini. Mereka sudah mengawasi Ratu Lerolan sejak dia melibatkan diri.”

 “Anabel Lerolan lumayan lama berada di istana Maven, setidaknya beberapa minggu,” kataku. Entah bagaimana, suaraku tidak gemetar. Kata-kata keluar dengan tenang dan tegas. Aku harus terkesan tegar, kalaupun saat ini aku tidak merasa demikian. Sebuah dusta, tetapi dusta yang baik. “Informasi yang Anabel miliki barangkali lebih banyak daripada yang sempat saya berikan kepada kalian.”




Download     : War Storm

Via        : Google Drive